Cerita dan Musik tentang Kota

Kota ini benar-benar bakal merugi jika tidak menyuguhkan banyak panggung untuk kualitas band-band indie yang tumbuh di Makassar. Begitu pula dengan ruang-ruang warga seperti pasar yang perlu dirawat–terus menerus.

Saat masih berkuliah di Yogyakarta, saya bersama seorang sahabat punya cara untuk merayakan akhir pekan, yakni mengunjungi, bergembira, dan menikmati panggung-panggung musik, dari gigs kecil di depan Istana Presiden yang menyuguhkan The Samsul Hadi hingga suguhan musik bersponsor kendaraan beroda dua atau produk rokok yang memboyong band sekaliber The S.I.G.I.T dan Seringai.

Dua tahun kemudian kami harus meninggalkan Jogja dan hingar bingar perayaan akhir pekan itu usai. Tak ada lagi panggung-panggung yang mewarnainya. Mungkin bukan tak ada, tapi kami saja yang belum ulet mencari spot-spot yang selalu menjajakan musik-musik berkualitas dan bisa diakses cuma-cuma atau berbiaya rendah. Baliho-baliho di tengah kota memang selalu menarik pemandangan ketika di sana nampang band sekaliber Naif atau Netral.

Tapi saya selalu kecewa melihat venue-nya. Tempat-tempat itu sepertinya membuat saya perlu merogoh kantong dalam-dalam untuk mendatanginya. Selain karena urusan rupiah, bagi saya, tempat semacam itu selalu membuat semuanya jadi eksklusif dan mengurangi kenikmatan perayaan. Di Jogja, line up band-band keren tadi bisa saya tonton dengan hanya merogoh sepuluh ribu rupiah plus satu kartu seluler perdana bahkan suatu saat sebuah produk rokok baru menampilkan The S.I.G.I.T, SID, Shaggydog, Jogja Hip Hop Foundation sepanggung. Atau suatu waktu, sesaat sebelum meninggalkan Jogja, saya bersama dua kawan asal Makassar mendatangi Teater Garasi di bilangan Bugisan Jogja untuk menyaksikan Melancholic Bitch, Risky Summerbee & The Honeythief, serta Belkastrelka dan kami tak membayar sepeser pun. Tapi sudahlah, di sini bukan Jogja, kata seorang kawan mengingatkan. Dan lagian terus meratapinya juga akan tidak menghasilkan apa-apa.

Sebenarnya kami berdua sudah sejak lama mengantisipasi ini. Setiap mendatangi gigs-gigs sederhana di Jogja, kami selalu bermimpi dan yakin bisa membuat gigs sederhana di Makassar yang diadakan secara rutin dan bisa diakses oleh siapa saja secara cuma-cuma seperti gratisnya hujan di pagi hari. Dan sejak memulai mimpi-mimpi ini, kami selalu membayangkan bahwa line up di gigs ini akan dihuni oleh band-band keren Makassar yang berani memainkan not-not aneh bin ganjil (ini istilah teman yang kebetulan jurnalis di kota ini) namun punya tingkat imajinasi luar biasa. Dan mereka pasti tersebar di hampir sudut kota yang katanya sebentar lagi menjadi kota dunia ini.

Teorinya sederhana. Pertumbuhan kota apalagi dengan akses informasi dan teknologi yang ikut memburu dengan kecepatan tinggi seharusnya berbarengan dengan upgrading kualitas rasa dan selera. Makanya ini perlu dibuktikan.

Tak lama kemudian, kami bertemu dengan beberapa teman penggiat skena indie musik Makassar. Setelah diskusi sederhana sekali dua kali akhirnya mimpi mulai terwujud. Akhir minggu lalu, gelaran bertajuk KBJamming berhasil kami gelar di tempat kami menyusun mimpi-mimpi, Kedai Buku Jenny. Untuk gelaran akustikan pertama ini, line up kami diisi oleh The Small Stage, First Moon dan Melismatis.

Mendengar mereka, saya begitu emosional. Tak membayangkan mimpi ini begitu cepat terwujud. Dan yang lebih penting, teori sederhana di atas sejauh ini terbukti. The Small Stage yang merupakan band kampus debutan lumayan berhasil membawa nuansa reuni di lagu “Bernyanyi Menunggu” milik Rumahsakit dengan cara khas anak kampus yang tiap hari bergelut dengan tugas dari dosen. Mereka juga kupikir cukup baik saat meng-cover “Wahana Jalan Tikus” milik Morfem yang didahului dengan interpretasi tentang kejumudan kota dalam lagu yang ditulis oleh Jimmy Multazam ini. Line up berikutnya, First Moon dan Melismatis, dua band indie Makassar dengan kualitas tinggi berhasil mengubah ruang tengah Kedai Buku Jenny menjadi gigs venue yang menarik meski tak begitu luas dan agak gerah. First Moon yang tampil lebih dulu menyuguhkan beberapa lagu gubahan mereka sendiri, seperti “Malu” dan “Tampil Feminin” dan meng-cover salah satu lagu Angsa dan Serigala. Berikutnya, Melismatis yang membawakan nomor-nomor seperti “Sepi”, “Melismatis”, “Gloria” dan “Sedikit ke Timur” yang diambil dari album pertama mereka yang bertajuk Finding Moon.

Penampilan dua band terakhir ini membuat saya berpikir kalau kota ini benar-benar bakalan merugi jika tidak menyuguhkan banyak panggung untuk kualitas yang dua band dan deretan band berkualitas di luar sana. Kalau tak percaya, coba buka dan dengarkan lagu-lagu mereka di akun Soundcloud atau Youtube mereka. Seorang kawan saat pertama kali mendengar Melismatis di sebuah panggung beberapa waktu lalu sontak berujar, “Makassar ji inikah?”

Selain menyuguhkan penampilan akustik, di KBJamming juga ada lapakan D.I.Y yang menjajakan produk-produk handmade dari RnC Shop, pameran sketsa dari Hi-Sketchers. Event yang juga didukung oleh Vonis Media dan AcSI ini mengusung tagline “Cerita tentang Kota”.

Ide tentang tagline ini sebenarnya baru lahir saat kami meminta kepada semua penampil pada gelaran KBJamming pertama untuk menulis apa saja tentang Kota Makassar. Ya, menulis tentang kota ini di selembar atau beberapa lembar kertas. Tulisan-tulisan tentang “Kota Makassar” yang akan kami kumpulkan dari penampil-penampil berikutnya rencananya akan kami terbitkan dalam bentuk buku bertajuk sama dengan tagline KBJamming.

Berkaitan dengan tagline ini pula, pada setiap bulannya kami akan ‘memotret’ salah satu spot di Kota Makassar (baik yang masih ada fisiknya maupun yang tinggal kenangan) yang punya sejarah atau cerita menarik namun perlahan telah dilupakan atau tidak mendapat perhatian serius. Pada gelaran pertama ini misalnya kami ikut mendukung gagasan ‘Save Pasar Terong’. Bagi kami, Pasar Terong tidak hanya sebagai pasar tradisional yang menjadi tepat mencari nafkah ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang tak terwadahi di pasar-pasar ‘besar’ dan perlahan-lahan mulai tergusur (atau digusur) oleh mereka yang jumawa atas dasar logika untung rugi semata.

Lebih dari itu, menurut kami, Pasar Terong (sebagai bagian dari pasar tradisional) merupakan gagasan, kultur, potret masyarakat yang perlu kita selamatkan dari kepunahan. Di sana, transaksi antara penjual dan pembeli tidak melulu berdiri diatas logika untung dan rugi. Di dalam pasar tradisional, proses sosialisasi dan komunikasi antara pembeli dan penjual masih terjaga dan terawat. Proses jual beli tidak lantas menegasikan hubungan manusiawi yang seharusnya memang menjadi “kata tengah” setiap proses transaksi. Karena alasan (yang sepertinya agak ribet ini), maka gagasan ini perlu kita selamatkan. Paling tidak, kita yang sama sekali tidak memikirkan atau tidak mau peduli sama sekali mungkin bisa mulai melirik sedikit dan mau cari tahu tentang gagasan ini.

Selebihnya, gelaran ini kami harapkan dapat menjadi pilihan lain (jika tak ingin disebut sebagai alternatif) ditengah monoton dan tidak bervariasinya model perayaan akhir pekan saat ini. Kami juga bermimpi bahwa gelaran musik berselera dapat digelar di tempat-tempat sederhana dan dapat diakses oleh siapa saja. Sekali lagi, siapa saja!

Kami juga berharap gelaran ini dapat menjadi ruang bagi banyak elemen untuk bertemu dan berbagi tentang banyak hal. Kami membayangkan bahwa KBJamming bisa menjadi tempat hang out baru yang akan mempertemukan para musisi, pencinta musik, penulis, mahasiswa, sketcher, pekerja D.I.Y, penyiar radio, pegawai kantoran, dan siapa pun dia. Untuk itu, gelaran ini bagi kami tidak melulu tentang musik. Lebih dari itu, gelaran ini bagi kami lebih menyerupai ruang dialog yang menjadikan musik sebagai katalisatornya. Akhirnya, keseluruhan gelaran ini adalah bagian dari proses ‘berdiskusi’ yang lebih cair namun tak kehilangan substansi.[]