Anak-anak yang Diambil Paksa dalam Nahebiti 2016

Makassarnolkm.id

  Pada menjelang akhir Desember tahun 1975, Timor-Leste diserbu oleh militer Indonesia dan dianeksasi sebagai provinsi ke-27. Dalam proses tersebut, diperkirakan 200.000 orang telah meninggal sebagai akibat dari represi, pelanggaran sistematis, dan kelaparan selama pendudukan, yang berlangsung sampai tahun 1999. Lebih jauh, diperkirakan 4.000 anak-anak paksa diambil dari keluarga mereka sebagai tentara anak atau untuk Indonesia selama pendudukan sebagaimana ditutrkan dalam laporan Komisi Timor-Leste untuk Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR). Anak-anak yang diambil paksa, dicabut dari budayanya dan jauh dari keluarganya kemudian hidup dalam kurungan masalah yang semakin pelik. Mereka kemudian tersebar di berbagai daerah, salah satunya di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Banyak di antara mereka kemudian bergabung bersama para pengungsi yang datang pada tahun 1999. Mereka kini hidup dengan beragam profesi dan aktivitas yang tujuan utamanya ialah untuk bertahan hidup. Banyak di antara mereka kini tidak saling mengenal dan menyimpan kenangan atas budaya nenek moyang mereka. Kegiatan yg bertajuk "Nahebiti 2016" ini dibuat sebagai tempat reuni, saling bertemu, menguatkan serta saling membuka informasi bersama sehinggga mereka secara perlahan mampu pulih dari luka pelanggaran HAM masa lalunya. Kegiatan yang akan dihelat di Benteng Rotterdam, 27 Oktober 2016, ini diorganisir oleh Asia Justice and Rights (AJAR) dan Kontras Sulawesi serta didukung oleh Kedai Buku Jenny dan Himahi Fisip Unhas. Acara yang akan berlangsung 09.00 - 16.00 Wita ini akan diisi kegiatan seperti musikalisasi puisi, nonton film, pameran foto, testimoni korban stolen children, dan pementasan teater.