Festival Pasar Terong: Pedagang Merencanakan Pasarnya Sendiri
Beberapa hal sering dihubungkan dengan Pasar Terong. Bagi Anda penggemar cakar (pakaian bekas), mendengar nama ini segera terlintas kesan bahwa pasar di Jalan Terong ini merupakan ‘surga’ berburu pakaian berharga murah. Bagi ibu rumah tangga, pasar ini tempat memperoleh bahan pokok seperti sayur dan ikan yang berharga murah untuk keluarga. Tapi bagi pemerintah, lain lagi. Pasar Terong menjadi salah satu “kambing hitam” raibnya Piala Adipura setiap tahun.
Pasar Terong dianggap sangat semrawut dan menjadi penyebab kemacetan, bahkan merusak pemandangan kawasan sekitarnya. Jika kita pertama kali memasuki pasar ini, ketidakteraturan lokasi berjualan pedagang memang tersaji di depan mata. Di sejumlah jalan, sepeti Jalan Terong, Sawi, Bayam, dan lainnya, sulit dilewati oleh kendaraan. Bahkan oleh manusia sekalipun harus rela berdesakan.
Namun, apakah kondisi tersebut terjadi karena pedagang yang tidak mau diatur? Untuk menjawab ini, Anda butuh lebih dari sekali mengunjungi Pasar Terong, termasuk mengobrol dengan para pedagang.
Active Society Instute (AcSI), organisasi yang sejak 2008 mulai mengakrabi Pasar Terong menemukan, penyebab kesemrawutan pasar bukan saja diakibatkan oleh ulah pedagang, akan tetapi pengelolaan dari pemerintah dan juga pihak pengembang yang tidak mengikutkan pedagang dalam perencanaan pengembangan pasar menjadi penyumbang terbesar untuk masalah kesemrawutan di Pasar Terong. Untuk menghindari kesalahan serupa, bersama Arkom (Arsitek Komunitas), komunitas arsitek yang memiliki jaringan nasional, melakukan pendekatan berbeda dalam merancang lokasi berjualan para pedagang.
Sebagai permulaan untuk melibatkan pedagang dalam merancang pasar yang akan mereka tempati berjualan, selama dua hari, 05 hingga 06 Februari 2013, sebuah kegiatan diadakan di Pasar Terong. Kegiatan yang dilabeli “Festival Pasar Terong” yang juga melibatkan organisasi pedagang, SADAR (Persaudaraan Pedagang Pasar Terong), berupa menggali informasi sebanyak mungkin dari pedagang, baik terkait kendala yang mereka hadapi setiap hari, hingga bagaimana harapan mereka terhadap penataan lokasi berjualan di masa mendatang.
Menurut Yuli Kusworo, salah seorang anggota Arkom, pelibatan komunitas dalam perencanaan sangat penting untuk menghindari kesalahan pembangunan yang tidak sesuai dengan kondisi komunitas. Contoh nyata adalah Gedung Pasar Terong. Bangunan berlantai empat ini menjadi sia-sia karena dari awal perencanaan tidak melibatkan orang-orang yang akan memanfaatkannya, yakni komunitas pedagang. Dengan demikian, bangunan tersebut menjadi ‘mati’ karena mengabaikan kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan segi lain yang terkait dengan kehidupan pedagang dan masyarakat dalam arti luas.
Oleh karena itu, dalam konteks pasar lokal, perencanaan pasar sangat penting melibatkan pedagang sehingga bangunan yang dihasilkan tepat sasaran dan tidak merugikan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap pasar lokal.
Hal yang hampir serupa juga dikatakan oleh sejumlah pedagang. Salah satunya Daeng Nur. Ia menganggap, selama ini, pemerintah ataupun pengembang dalam membangun pasar tidak mendengarkan aspirasi para pedagang. Meski terjadi beberapa pertemuan, namun kesepakatan yang dihasilkan kerap tidak ditaati oleh pihak pengembang ataupun pemerintah sehingga pedagang tetap dirugikan. Bahkan dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa akibat renovasi dan relokasi yang kembali dilakukan oleh pengembang pasar membuat sejumlah pedagang memilih tutup karena kehabisan modal. Belum lagi tidak adanya kepastian tempat jualan mereka karena sewaktu-waktu masih bisa tergusur.
Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini menggunakan lantai tiga Gedung Pasar Terong. Bangunan ini yang sementara dalam pengerjaan untuk diubah menjadi Grand Mall. Di antara tumpukan limbah bata dan sampah bangunan lain, para pedagang dan pendamping dari SADAR, Arkom, dan AcSI duduk bersama melantai di ruang yang terasa pengap itu. Mereka duduk beralas koran, kardus bekas, karpet, dan tikar plastik mengikuti kegiatan.
Para pedagang yang berkumpul itu duduk bersama untuk menjelaskan kondisi pasar. Mereka dibagi kelompok berdasarkan sektor, letak mereka berjualan—dari sektor Terong, Sektor Sawi, Sektor Tangga Selatan, sampai Sektor Bayam. Para pedagang menjelaskan kondisi pasar sesuai pengetahuan masing-masing di sekitar lokasi berjualan mereka dalam bentuk gambar. Di awal kegiatan, Jalil, fasilitator dari Arkom, mengajak pedagang untuk bermain bersama yang membuat setiap peserta melepaskan tawa.
Tidak sekadar menghimpun kendala serta harapan mereka terhadap pengembangan pasar. Pada hari kedua kegiatan, pedagang juga mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka di hadapan semua peserta. Hasil itu dilanjutkan dengan menyepakati sejumlah hal untuk kepentingan perubahan pasar yang lebih baik dan lebih memihak kepada pedagang itu sendiri.[]
